Background

Update Saham

BANK MUAMALAT: PERENCANAAN KEUANGAN KUNCI SURVIVE DARI RESESI EK

89170307 IQPlus, (16/10) - Pandemi covid-19 yang telah berlangsung selama delapan bulan membuat kondisi perekonomian Tanah Air bergejolak. Realisasi pertumbuhan ekonomi yang minus pada kuartal III tahun ini membuat Indonesia dinyatakan mengalami resesi ekonomi. Perencanaan keuangan yang baik diperlukan oleh masyarakat agar dapat mengantisipasi dampak negatif dari kondisi ini. Oleh karena itu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. mengadakan webinar bertajuk .Kiat Mengelola Keuangan dan Mengantisipasi Resesi Ekonomi.. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Tri Djoko Santoso yang merupakan pendiri dan ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Financial Planning Standards Board (FPSB). Turut hadir pula Direktur Bisnis Ritel Bank Muamalat Purnomo B. Soetadi dan Direktur Utama PT Asuransi Takaful Keluarga Arfandi Arif. Purnomo mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk berbagi kiat kepada nasabah, khususnya nasabah prioritas, tentang bagaimana mengelola keuangan dalam situasi resesi ekonomi. Selain itu, Bank Muamalat sekaligus memperkenalkan kembali produk asuransi Hijrah Cendekia yang bekerja sama dengan Takaful Keluarga. Purnomo mengatakan perencanaan keuangan yang baik adalah kunci supaya masyarakat dapat survive menghadapi resesi ekonomi. "Salah satunya dengan mengikuti program asuransi perencanaan pendidikan. Kerja sama dengan Takaful Keluarga merupakan upaya kami untuk memberikan akses sekaligus edukasi kepada masyarakat mengenai produk asuransi, khususnya asuransi pendidikan," ujarnya, seperti dikutip Jumat. Hijrah Cendekia adalah asuransi pendidikan yang memberikan perlindungan jiwa bagi orang tua pemegang polis dan anak sebagai tertanggung. Purnomo menjelaskan manfaat dari Hijrah Cendekia ialah biaya pendidikan yang bisa diambil pada setiap jenjang pendidikan, sehingga dapat membantu alokasi keuangan nasabah pada saat melakukan pembayaran pendidikan. "Produk ini dipasarkan oleh Bank Muamalat dan telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," pungkasnya. (end/ba)